Kemarau Panjang 2026: Ratusan KK di Dua Desa Banyuwangi Krisis Air Bersih
LINTAS86.com, BANYUWANGI – Ancaman krisis air bersih akibat fenomena El Nino kuat kini nyata menghantui Kabupaten Banyuwangi pada pertengahan tahun 2026. Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, 11 kecamatan masuk dalam zona risiko tinggi kekeringan ekstrem. Musim kemarau yang jauh lebih kering dan panjang memicu penyusutan drastis debit air tanah. Akibatnya, sumur-sumur warga di beberapa desa mengering total. Kondisi ini memaksa pemerintah daerah bergerak cepat mendistribusikan bantuan air bersih demi mencegah krisis sosial yang lebih meluas.
Dampak nyata kemarau El Nino ini mulai melanda Desa Sambirejo dan Desa Sambimulyo di Kecamatan Bangorejo. Kedua wilayah tersebut menjadi titik terdampak dengan potensi risiko kekeringan yang sangat tinggi.
Fenomena iklim ini menyebabkan sumur galian warga mengalami penurunan debit secara signifikan hingga mengering. Guna mengatasi krisis, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banyuwangi langsung menyalurkan bantuan air bersih menggunakan truk tangki ke lokasi terdampak, merespons permintaan Kepala Desa melalui Ketua PMI Kecamatan Bangorejo.
Sejak Rabu, 22 Juli 2026, PMI telah menurunkan Tim Distribusi Air Bersih ke Dusun Kedungrejo, Desa Sambirejo. Sementara pada Kamis, 23 Juli 2026, armada tangki kembali bergerak menyuplai air bersih untuk warga di Dusun Kedungrejo, Desa Sambimulyo. Bantuan ini menjadi tumpuan utama warga setelah berbulan-bulan didera cuaca ekstrem tanpa rintik hujan.
Kepala Desa Sambimulyo, Andik Santoso, memaparkan situasi sulit yang dihadapi oleh warganya selama musim kemarau ini.
"Sudah 3 bulan ini wilayah kami tidak ada hujan, debit air di sumur-sumur warga terus menurun hingga sebagian mulai mengering," ujar Andik Santoso saat mendampingi penyaluran air.
Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan memperoleh air bersih untuk konsumsi harian.
Kebutuhan air di desa ini juga meningkat karena adanya mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
"Dengan adanya bantuan air bersih dari PMI Kabupaten Banyuwangi ini, masyarakat sangat bersyukur bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari yang ditampung di tandon air dari BPBD," tambahnya.
Merespons meluasnya dampak kekeringan, Kepala Markas PMI Kabupaten Banyuwangi, Drs. Sutiyono, menyatakan bahwa pihak PMI telah berkoordinasi intensif dengan BPBD dan Perusahaan Daerah Air Minum (PUDAM).
Sinergi ini ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari wilayah yang mulai kering, seperti Kecamatan Bangorejo dan Kecamatan Cluring. PMI telah menyiagakan Tim Distribusi Bantuan Air Bersih yang terdiri dari relawan dan staf markas.
"Kami bergerak dilengkapi sarana prasarana 1 unit truk tangki air berkapasitas 5.000 liter. Bantuan air bersih ini disalurkan sebagai langkah darurat untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau," kata Drs. Sutiyono. Beliau menambahkan bahwa tim lapangan siap melayani warga secara fleksibel. "Apabila di lokasi desa tidak menyediakan fasilitas tandon air, relawan PMI juga siap mendistribusikan air bersih langsung ke rumah-rumah warga terdampak," tegasnya.
Drs. Sutiyono juga mengimbau warga agar menggunakan pasokan air secara hemat dan bijak. Ia meminta pihak desa segera melapor jika ada titik kekeringan baru agar penanganan berjalan cepat. Hingga hari kedua operasi darurat (23/7), PMI telah mendistribusikan total 10.000 liter air bersih. Pasokan ini menyasar Desa Sambimulyo yang menampung 640 jiwa (160 KK) serta Desa Sambirejo yang dihuni oleh 285 jiwa (75 KK).
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar