Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai




LINTAS86.com, PONOROGO — Anak-anak usia sekolah di kawasan perdesaan kini mulai diajak untuk melirik kembali pesona seni tradisional sebagai alternatif hiburan yang edukatif. Melalui sebuah program pengabdian masyarakat yang humanis di Desa Serag, Kabupaten Ponorogo, belasan anak tingkat sekolah dasar mendapatkan kesempatan langka untuk berinteraksi langsung dengan seperangkat alat musik gamelan. 

Langkah nyata ini digalakkan sebagai upaya konkret publik dalam membangun ruang aktivitas baru yang positif, sekaligus menekan kecenderungan ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai (gadget) yang kian mengkhawatirkan di lingkungan keluarga.
Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, mulai 28 hingga 30 Agustus 2026, berpusat di Sanggar Yayasan Rumah Budaya Harmini Parni. 
Sebanyak 15 siswa Madrasah Ibtidaiyah setempat yang menjadi peserta tampak sangat antusias meskipun sebagian besar dari mereka belum pernah menyentuh atau mengenali instrumen gamelan sebelumnya. 
Pada awal sesi latihan, riuh suara tabuhan yang belum beraturan sempat mewarnai ruangan karena para siswa masih meraba-raba teknik memukul bilah-bilah besi dan perunggu yang ada di hadapan mereka. Namun, berkat ketelatenan para instruktur pendamping, suasana canggung tersebut perlahan berubah menjadi penuh keceriaan.
Melalui pendekatan bermain sambil belajar, para siswa diajarkan mengenali ketukan dasar serta keharmonisan nada dari gending jagoan masa kecil, yaitu Cublak-Cublak Suweng. Pengenalan lagu daerah yang jenaka ini terbukti ampuh membangkitkan rasa percaya diri anak-anak untuk terus mencoba. 
Manfaat dari ruang publik ini dirasakan langsung oleh komunitas lokal, di mana anak-anak kini memiliki waktu produktif di sore hari untuk berkumpul secara fisik, saling bekerja sama menyelaraskan nada musik, dan melupakan sejenak permainan digital di layar ponsel mereka. 
Pembiasaan ini menjadi tips praktis bagi para orang tua di Desa Serag untuk mengalihkan perhatian anak ke arah kegiatan pelestarian budaya yang lebih sehat bagi perkembangan mental.
Kegembiraan dan dampak nyata dari pengalihan aktivitas ini diakui secara langsung oleh tim pengajar yang mendampingi proses adaptasi anak-anak dari dunia digital ke ruang seni nyata. 
Ketua PKM Karawitan di Desa Serag, Anbie Haldini Muhammad, S.Sn., M.A., menyatakan bahwa melihat anak-anak bisa melepas gawai mereka dan menikmati musik tradisional adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi masyarakat desa. 
"Ceritanya selama dua hari saya bersama anggota kelompok membantu 15 siswa Madrasah Ibtidaiyah. Mereka baru mengenal gamelan. Kesulitan itu karena memang hal yang baru. Akhirnya mereka bisa enjoy dan mengenal gending Cublak-Cublak Suweng," kata Anbie menceritakan proses adaptasi anak-anak di lapangan.
Dari sudut pandang kebijakan strategis institusi pencetus program, pelaksanaan pembinaan ini didesain sebagai program berkelanjutan yang memiliki target jangka panjang dalam penguatan kapasitas budaya lokal. Langkah akademis ini diambil untuk memastikan bahwa universitas tidak hanya memberikan teori, tetapi juga hadir memberikan solusi atas fenomena sosial di masyarakat. 
Ketua PKM Karawitan, Anbie Haldini Muhammad, S.Sn., M.A., menegaskan bahwa komitmen strategis pascapelatihan ini akan terus dipantau perkembangannya demi masa depan anak-anak.
  "Pelatihan ini memang dalam rangka mengurangi kecenderungan gadget. Harapannya, dengan kegiatan ini mereka bisa sedikit lupa dengan gadget. Pembinaan seni karawitan diharapkan dapat terus berlanjut sehingga para siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka," tegas Anbie merumuskan arah kebijakan programnya.
Penulis: Ega Pratama
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai
  • Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai
  • Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai
  • Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai
  • Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai
  • Edukasi Karawitan Unesa Tekan Kecanduan Gawai

Posting Komentar