Modal Nekat, Relawan PMI Sukses Wawancarai Delegasi IFRC
LINTAS86.com, Gresik - Suasana belajar di Pusdiklat PMI Provinsi Jawa Timur di Kebomas, Kabupaten Gresik, mendadak terasa hangat. Ruangan yang tenang kini riuh oleh antusiasme puluhan insan humas dari berbagai daerah. Kegiatan peningkatan kapasitas komunikasi dan adaptasi era digital ini berhasil menciptakan pengalaman mendalam bagi seluruh peserta. Salah satu cerita paling menarik datang dari Mellinda Setiani Nusa Dinata, utusan PMI Kabupaten Blitar yang menempuh perjalanan jauh demi menimba ilmu kehumasan baru.
Melinda mengenang bagaimana langkah pertamanya dimulai tanpa gambaran rumit. Ketika diutus pimpinan daerahnya, ia menyanggupi tugas dengan penuh keikhlasan. Ia sempat mengira agenda pelatihan ini hanya berupa penyampaian teori umum di dalam kelas saja. Namun, begitu melangkah ke lokasi kegiatan di Gresik bersama 40 peserta dari 31 kabupaten/kota, persepsi itu berubah total. Pelatihan dirancang interaktif melalui empat pilar utama: adaptasi komunikasi digital, pengemasan diseminasi pelayanan kemanusiaan, jurnalisme kemanusiaan, serta penguatan manajemen jejaring berita tanggap darurat.
Puncak kehebohan terjadi saat peserta berkesempatan mengunjungi Gudang Regional PMI Indonesia Timur yang berada satu lokasi dengan pusdiklat. Kesempatan langka bertemu langsung pejabat tinggi Pengurus Pusat PMI seperti Sekjen A.M. Fachir dan Dr. Drs. Josef Nae Soi menjadi momen berharga. Tak hanya itu, kehadiran pimpinan utama PMI Jawa Timur Drs. Dwi Suyanto dan Edy Indrayana, hingga tokoh kunci IFRC untuk ASEAN, Kathryn Clarkson, membuat suasana pelatihan semakin luar biasa bagi peserta awam.
Momen paling menguji nyali muncul saat mereka ditantang melakukan praktik wawancara lapangan secara langsung di area gudang tersebut. Ketika pertanyaan yang diarahkan kepada Sekjen PP PMI tiba-tiba dialihkan langsung ke Kepala Delegasi IFRC Kathryn, Melinda yang memegang peran penanya sempat tertegun. Rasa gugup tidak bisa disembunyikan, tetapi ia memilih meruntuhkan tembok keraguan demi kelancaran tugasnya.
Dengan modal nekat dan semangat tinggi, Melinda menyampaikan pertanyaan menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Inggris. Kejujuran serta keberaniannya justru berbuah respons sangat hangat. Pesan wawancaranya tersampaikan dengan jelas dan dipahami baik oleh pihak perwakilan IFRC global tersebut.
"Untuk saya pribadi, saya sangat siap jika sewaktu-waktu dibutuhkan membantu PMI. Namun karena saya masih baru, saya masih sangat butuh banyak briefing dan bimbingan. Pesan untuk teman-teman PMI se-Jawa Timur: tetap semangat, mari kembangkan apa yang didapat di sini dan terus pelajari hal-hal baru di daerah masing-masing," ungkap Melinda penuh optimisme.
Pengalaman berharga di Pusdiklat PMI Jawa Timur ini membuktikan bahwa pelatihan kehumasan tidak hanya mengasah keterampilan teknis jurnalistik dan visual. Agenda ini terbukti berhasil membangun rasa kepercayaan diri yang kuat di dalam jiwa setiap relawan kemanusiaan. Melinda membuktikan keterbatasan bukanlah penghalang melangkah maju, melainkan pintu pembuka menuju pengabdian kemanusiaan yang jauh lebih berdampak nyata bagi seluruh masyarakat luas.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi
Posting Komentar