Cerita Haru Waliadi di Tenda Nagekeo: Bertahan Bersama Cucu dan Kehangatan Sembako Lintas Pulau
LINTAS86.com, NAGEKEO – Di balik reruntuhan bangunan dan pekatnya debu pascagempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), selalu ada kisah-kisah ketangguhan manusia yang menginspirasi kita semua. Kehidupan di bawah terpal pengungsian Desa Tendakinde, Dusun Kaburea, mungkin terasa dingin dan serba terbatas bagi sebagian orang. Namun, pada Sabtu (12/09/2026), sebuah momen penuh kehangatan datang mengetuk tenda-tenda pengungsian, membuktikan bahwa kasih sayang sesama manusia tidak mengenal batas wilayah.
Sebuah gerakan kemanusiaan inspiratif digerakkan oleh para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sumatera Utara yang datang bersama pihak swasta dari Musim Mas Group dan PT Mega Surya Mas (MSM). Mereka menempuh perjalanan jauh demi mengantarkan 100 paket sembako untuk warga pengungsian. Namun, kisah inspiratif sejati hari itu lahir dari guratan wajah seorang kakek tua bernama Waliadi.
Waliadi, yang kini telah menginjak usia 60 tahun, adalah salah satu potret nyata dari ketabahan warga Nagekeo. Di usia senjanya yang seharusnya dihabiskan dengan beristirahat tenang, ia harus menghadapi kenyataan pahit tinggal di pengungsian darurat. Ujian hidupnya kian nyata karena di dalam tenda berukuran terbatas itu, ia tidak sendirian. Waliadi harus menjadi pelindung, pemenuh kebutuhan, sekaligus sandaran hidup bagi cucu tercintanya yang masih kecil.
Ketika namanya dipanggil untuk menerima paket sembako, mata tua Waliadi tampak berkaca-kaca. Pelukan eratnya pada sekarung beras dan sekotak telur menggambarkan betapa berartinya bantuan tersebut bagi kelangsungan hidup keluarga kecilnya. Bagi Waliadi, paket bahan pokok itu adalah jawaban atas kekhawatiran seorang kakek tentang apa yang bisa disajikan untuk makan cucunya esok hari.
“Bantuan bahan pokok ini akan langsung saya bawa dan gunakan untuk memenuhi kebutuhan makan di rumah darurat kami. Kebetulan di pengungsian ini saya tinggal hanya berdua dengan cucu saya yang masih kecil. Adanya beras, telur, dan susu ini sangat menenangkan hati saya sebagai orang tua,” kata Waliadi dengan suara bergetar penuh rasa syukur. Kisahnya menjadi pengingat bagi para relawan tentang pentingnya ketepatan target bantuan.
Semangat inspiratif untuk saling menguatkan ini juga tercermin dari sikap perwakilan korporasi PT Musim Mas dan PT Mega Surya Mas (MSM), Siswondo. Ia memilih melepaskan sekat formalitas sebagai pejabat perusahaan dan memilih duduk bersila bersama warga di atas alas terpal pengungsian yang sederhana. Baginya, melihat ketabahan sosok seperti Pak Waliadi adalah sebuah pelajaran hidup yang berharga mengenai arti bersyukur.
“Kalau hari ini kita semua bisa duduk di tenda yang sama, makan bareng, dan menikmati kondisi ini, kita wajib bersyukur kepada Tuhan atas nikmat hidup. Ini bukan sekadar membagikan barang lalu pergi, ini adalah tentang merawat hubungan kebersamaan kami yang sudah berjalan konsisten sejak pertengahan Agustus lalu di sini. Harapan terbesar kami, Pak Waliadi dan seluruh masyarakat di Tendakinde selalu diberikan kesehatan, tidak patah arang, tetap semangat, serta selalu optimis menatap pemulihan,” tutur Siswondo penuh motivasi.
Peristiwa di Desa Tendakinde ini menularkan pesan inspiratif yang mendalam bagi pembaca. Di balik setiap paket sembako yang tersalurkan, ada doa, tenaga relawan yang lelah, dan air mata syukur pengungsi seperti Waliadi. Kisah ini menegaskan bahwa seberat apa pun bencana alam mengguncang, ia tidak akan pernah mampu meruntuhkan fondasi kebersamaan dan ketangguhan manusia Indonesia.
Penulis: Haafiid
Editor: Redaksi
Posting Komentar