Evakuasi Massal Santri Sidoarjo Diduga Keracunan Makanan
Peristiwa ini bermula saat para santri menyantap hidangan MBG sekitar pukul 12.30 WIB usai salat Zuhur. Memasuki waktu salat Ashar hingga pukul 17.30 WIB, beberapa santri mulai mengeluhkan mual dan pusing. Kondisi kian memburuk pada pukul 18.30 WIB tatkala jumlah santri yang membutuhkan pertolongan medis meningkat drastis.
Guna mengatasi keadaan darurat, masjid pondok pesantren dialihfungsikan menjadi titik pelayanan medis sementara. Di lokasi ini, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sidoarjo menurunkan 15 personel yang terdiri dari 12 perawat dan 3 personel nonperawat untuk melakukan penanganan awal, pemasangan infus, serta proses evakuasi.
Staf PMI Kabupaten Sidoarjo, Mohammad Musa Kalimmulloh, mengungkapkan bahwa timnya langsung bergerak cepat begitu menerima laporan krisis dari pihak pesantren.
“Begitu mendapatkan informasi, kami langsung bergerak ke lokasi. Banyak santri yang membutuhkan pertolongan, sehingga kami berusaha memberikan penanganan secepat mungkin dan menangani mereka sesuai kondisi masing-masing,” kata Mohammad Musa Kalimmulloh.
Musa menyebutkan bahwa pertolongan pertama di lokasi dilakukan sejajar dengan persiapan jalur evakuasi ke rumah sakit.
“Ada yang kami tangani di lokasi, termasuk pemasangan infus bagi yang membutuhkan. Untuk santri yang perlu penanganan lebih lanjut, kami bantu proses evakuasinya agar bisa segera mendapatkan pelayanan di rumah sakit,” terangnya.
Selain tindakan medis, pendampingan emosional diberikan untuk meredakan kepanikan para santri.
“Mereka tentu merasa takut dan panik. Jadi kami berusaha menenangkan dan mendampingi mereka. Yang penting bagi kami, santri mendapatkan pertolongan dengan cepat dan merasa aman selama proses penanganan,” ujar Musa.
Proses evakuasi merujuk para santri ke RSUD R.T. Notopuro, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya. Di RS Delta Surya, gelombang santri berdatangan sejak pukul 18.00 WIB dalam kondisi lemas terinfus. Seorang petugas kesehatan RS Delta Surya menyebutkan ada 13 santri yang ditangani di IGD dari perkiraan awal 40 santri.
"Saat ini kondisi pasien sudah ditangani, ada 13 orang. Para pasien mulai masuk sejak pukul 18.00 WIB," jelas petugas tersebut.
Ia mengonfirmasi bahwa gejala dominan yang dialami para santri adalah gangguan pencernaan.
"Mual dan muntah paling banyak," ungkapnya.
Pihak RS Delta Surya memastikan kesiapan sarana medis dalam menerima rujukan lanjutan.
"Semua sudah dipastikan tidak ada kekurangan untuk bed, sudah kita siapkan. Begitu juga dokter dan perawat," tegasnya.
Sementara itu, lonjakan pasien paling tinggi terjadi di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo dengan total 259 santri terdata. Tenaga medis memberikan bantuan oksigen bagi pasien kritis di IGD dan menempatkan pasien bergejala ringan di area poliklinik.
Bupati Sidoarjo, Subandi, yang meninjau langsung penanganan korban memastikan seluruh pasien telah ditangani dengan baik.
"[Jumlah santri Pondok Pesantren Manbaul Hikmah yang diduga mengalami keracunan usai menyantap MBG] kita masih belum tahu, semua sudah aman, sudah tertangani dengan baik," kata Subandi.
Adapun di RSI Siti Hajar Sidoarjo, sebanyak 57 santri mendapatkan perawatan intensif. Direktur RSI Siti Hajar, dr. H. Iqbal Faizin, merinci jumlah pasien yang ditangani hingga malam hari.
"Sampai pukul 21.15 WIB tercatat ada pasien masuk melalui IGD hampir 60," jelas Iqbal.
Iqbal memastikan pasien yang stabil terus dipantau, sedangkan pasien yang memerlukan rawat inap langsung dipindahkan ke ruang perawatan.
"Kami masih bisa menampung kira-kira hampir 50-an pasien lagi. Insya Allah semuanya terkondisikan dengan baik, baik keluarga maupun pasien," tutup Iqbal.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar