Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial

LINTAS86.com, MANGGARAI – Rasa takut dan kekhawatiran masih dirasakan sebagian warga Dusun Wela, Desa Gapong, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, setelah gempa pada 15 Agustus 2026. Di tengah proses pemulihan tersebut, warga berusaha saling menguatkan dengan berkumpul dan berbagi cerita mengenai pengalaman yang mereka alami.

Untuk mendukung proses pemulihan masyarakat, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai memberikan layanan Psychosocial Support Service (PSS) atau dukungan psikososial kepada warga Dusun Wela, Jumat (11/9/2026).

Layanan tersebut menyasar berbagai kelompok usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, dengan kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta.

Pasca kejadian bencana, sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Sebagian masyarakat kemudian membuat posko secara mandiri. Namun, keterbatasan perlengkapan seperti terpal, selimut, dan tikar membuat sebagian warga harus bergabung di tempat penampungan tetangga atau memilih bertahan di rumah.

Di tengah kondisi tersebut, kebersamaan menjadi salah satu cara masyarakat menghadapi situasi pascabencana. Warga berkumpul, bertukar cerita dan saling memberikan dukungan ketika rasa takut maupun kecemasan muncul.

138 Warga Ikuti Layanan Psikososial

Kegiatan PSS PMI Kabupaten Manggarai dibagi menjadi tiga kelompok, yakni anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak.

Sebanyak 66 anak mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 38 laki-laki dan 28 perempuan.

Sementara peserta dewasa tercatat 72 orang, terdiri atas 23 laki-laki dan 49 perempuan. Dengan demikian, berdasarkan data kegiatan, keseluruhan layanan menjangkau 138 warga.

Untuk kelompok anak, kegiatan dikemas melalui aktivitas ekspresif dan kreatif seperti permainan, musik hingga kegiatan membersihkan sampah.

Berbagai aktivitas itu menjadi sarana bagi anak-anak untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri secara positif di tengah situasi pascabencana.

Sementara untuk kelompok dewasa, pendamping memberikan kesempatan kepada warga untuk menceritakan pengalaman dan perasaan yang muncul setelah bencana.

Koordinator layanan PSS, Habib, mengatakan salah satu tujuan pendampingan adalah membantu mengurangi tekanan psikologis dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk bercerita.

“Layanan ini bertujuan untuk memahami coping skill atau kemampuan seseorang dalam menghadapi situasi, yaitu berusaha untuk saling menginformasikan kemampuan yang positif hingga memantapkan dukungan sosial antarwarga,” jelas Habib.

Menurut Habib, peserta dewasa dibagi menjadi kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu agar masing-masing peserta mendapatkan ruang yang lebih nyaman untuk menyampaikan pengalaman.

Pada kelompok bapak-bapak, pendamping mengajak peserta bercerita mengenai pengalaman saat terjadi gempa serta bagaimana menjalani kehidupan secara bertahap menuju pemulihan.

“Para bapak-bapak kita pandu untuk mengekspresikan emosi mereka, yaitu mengekspresikan cerita dan pengalaman saat terjadinya gempa. Hampir semua menceritakan kondisi yang mereka alami, kemudian bagaimana mereka bisa bertahap menuju pemulihan,” katanya.

Beri Ruang bagi Warga untuk Bercerita

Pendamping PSS lainnya, Luluk, memberikan pendampingan kepada kelompok ibu-ibu dengan memberi ruang untuk menyampaikan cerita, kekhawatiran dan kecemasan yang selama ini dirasakan.

Pendampingan tersebut juga mencakup Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis.

“Kami memfasilitasi mama-mama untuk bisa menyalurkan cerita yang selama ini belum bisa tersampaikan, seperti rasa kekhawatiran, kecemasan dan lain-lain,” ujar Luluk.

Dalam proses pendampingan, menurut Luluk, ada peserta yang menangis ketika menyampaikan pengalaman maupun perasaan yang selama ini dipendam.

“Tidak sedikit ada yang menangis, karena tujuan dari kami adalah melepaskan hal yang selama ini terpendam, yang mungkin mereka tidak berani mengeluarkan cerita,” lanjutnya.

Proses saling mendengarkan tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun kembali dukungan sosial di lingkungan masyarakat.

Kekhawatiran Longsor Masih Membayangi Warga

Selain pengalaman gempa, kondisi geografis Desa Gapong turut menjadi perhatian masyarakat. Wilayah tersebut berada di kawasan dengan kemiringan yang membuat sebagian warga mengkhawatirkan potensi longsor.

Kekhawatiran semakin kuat karena warga masih mengingat bencana longsor yang pernah terjadi di Desa Gapong pada 2007.

Berdasarkan cerita warga yang dihimpun pendamping Korps Sukarela (KSR) PMI Kabupaten Manggarai selama kegiatan, sebagian masyarakat masih takut beraktivitas di kebun.

Di tengah kondisi tersebut, beredarnya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai kemungkinan gempa yang lebih besar juga disebut turut menambah kecemasan.

Warga mengkhawatirkan apabila gempa kembali terjadi bersamaan dengan hujan dan kondisi retakan tanah, situasi tersebut dapat meningkatkan risiko bencana di lingkungan tempat tinggal mereka.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik. Pendampingan sosial dan psikososial juga diperlukan agar masyarakat dapat secara bertahap kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Warga Berharap Pendampingan Berlanjut

Salah seorang warga Dusun Wela, Arnoldus Tanga (39), mengapresiasi kehadiran PMI Kabupaten Manggarai yang menurutnya telah beberapa kali mengunjungi wilayah tersebut.

“Saya sangat bangga kepada PMI Kabupaten Manggarai yang sudah mengunjungi dusun ini sebanyak tiga kali untuk menghibur masyarakat yang selalu dihantui dengan rasa takut dan trauma saat gempa susulan. Kami berharap kegiatan ini jangan pernah berhenti di desa kami,” ungkap Arnoldus.

Arnoldus berharap kegiatan berikutnya dapat dikemas lebih bervariasi. Permainan tradisional, kuis menggunakan bahasa Manggarai hingga kegiatan anak yang diiringi musik menjadi beberapa usulannya.

“Jika masih ada kegiatan berikutnya, saran dan masukan saya kegiatannya harus bervariasi dengan hiburan berupa permainan tarik tambang dan kuis menggunakan bahasa Manggarai untuk orang dewasa dan senam yang disertai musik untuk anak-anak,” katanya.

Harapan tersebut menggambarkan pentingnya aktivitas bersama dalam proses pemulihan kehidupan sosial masyarakat setelah bencana.

Kehadiran layanan psikososial di Dusun Wela sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan rumah dan kebutuhan fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat mendapatkan kembali rasa aman, ruang untuk bercerita, serta kekuatan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Melalui kebersamaan, aktivitas kreatif dan pendampingan psikososial, warga Dusun Wela diharapkan dapat secara bertahap membangun kembali kehidupan sosial selepas bencana.

Penulis: Edho
Editor: Redaksi

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial
  • Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial
  • Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial
  • Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial
  • Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial
  • Pulihkan Semangat Pascagempa, PMI Dampingi Warga Dusun Wela Lewat Layanan Psikososial

Posting Komentar