Ratusan Santri Ikuti Peluncuran SANGGUB di Ponorogo
LINTAS86.com, PONOROGO - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Cabang Ponorogo resmi meluncurkan Program SANGGUB (Santri Tangguh Bencana) dalam rangkaian Apel Hari Santri Nasional 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Nurul Qur'an, Pakunden, Ponorogo, Kamis (22/10/2026).
Kegiatan tersebut juga dirangkai dengan gerakan penanaman 1.000 pohon sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan dan mengurangi risiko kerusakan alam di masa mendatang.
Apel Hari Santri Nasional berlangsung khidmat dengan dihadiri ratusan santri, pengasuh pondok pesantren, jajaran pengurus Nahdlatul Ulama Ponorogo, serta sejumlah lembaga dan badan otonom NU yang terlibat dalam pengembangan program.
Tahun ini, peringatan Hari Santri Nasional mengusung tema resmi "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", yang menegaskan peran strategis santri dalam mendukung pembangunan bangsa menuju satu abad kemerdekaan Indonesia pada tahun 2045.
Peluncuran Program SANGGUB menjadi salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut karena dinilai relevan dengan kebutuhan peningkatan kapasitas generasi muda dalam menghadapi potensi bencana dan dampak perubahan iklim.
Ketua LPBI NU Ponorogo, Khusnul Khabib, mengatakan bahwa edukasi mengenai lingkungan dan kebencanaan perlu diperkenalkan sejak usia dini agar tumbuh menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
"Sangat penting bagi kita untuk menumbuhkan mindset menanam sejak dini kepada generasi muda. Hal ini menjadi langkah krusial guna menjaga kelestarian alam dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan di masa depan," ujarnya.
Menurut dia, kesadaran lingkungan harus dibangun melalui langkah nyata dan berkelanjutan, salah satunya melalui kegiatan menanam pohon yang melibatkan generasi muda.
Program SANGGUB Dikhususkan untuk Pesantren
Dalam keterangannya, Khusnul menjelaskan bahwa Program SANGGUB disusun secara khusus untuk lingkungan pesantren.
Program ini bertujuan memperkenalkan berbagai pengetahuan dasar mengenai kebencanaan kepada para santri, sekaligus membentuk karakter generasi yang tangguh menghadapi berbagai situasi darurat.
"Program SANGGUB ini bertujuan untuk mengenalkan dan membekali para santri dengan pengetahuan terkait kebencanaan. Kita ingin santri siap, tanggap, dan tangguh menghadapi bencana demi masa depan yang lebih baik," katanya.
Melalui program tersebut, LPBI NU Ponorogo berharap pesantren dapat menjadi salah satu pusat edukasi kebencanaan yang mampu menularkan budaya sadar risiko kepada masyarakat sekitar.
Keberadaan santri yang tersebar di berbagai daerah dinilai menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun jaringan edukasi kebencanaan berbasis komunitas.
Selain memperoleh pendidikan agama, para santri nantinya juga mendapatkan tambahan wawasan mengenai mitigasi bencana, keselamatan lingkungan, serta kepedulian sosial kemasyarakatan.
Empat Pilar Pelaksanaan Program
Untuk memastikan program berjalan secara berkelanjutan, LPBI NU Ponorogo menyiapkan empat pilar utama sebagai landasan pelaksanaan Program SANGGUB.
Pilar pertama adalah edukasi kebencanaan.
Melalui kegiatan ini, santri akan mendapatkan pemahaman mengenai berbagai potensi ancaman bencana, langkah pencegahan, serta pentingnya kesiapsiagaan.
Pilar kedua berupa simulasi tanggap bencana.
Simulasi dilakukan agar para santri mengetahui prosedur keselamatan ketika menghadapi kondisi darurat.
Pilar ketiga adalah aksi kemanusiaan.
Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan semangat kepedulian sosial sekaligus memperkuat karakter gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari budaya pesantren.
Sedangkan pilar keempat adalah penguatan kapasitas ketangguhan santri.
Melalui pilar ini, peserta didorong memiliki kemampuan adaptasi, kepemimpinan, serta daya tahan menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Keempat pilar tersebut akan dijalankan secara bertahap dan berkelanjutan melalui dukungan berbagai lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Penanaman 1.000 Pohon
Selain peluncuran Program SANGGUB, perhatian peserta juga tertuju pada gerakan menanam 1.000 pohon yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Santri Nasional.
Penanaman pohon dilakukan sebagai simbol kepedulian terhadap lingkungan sekaligus ajakan kepada generasi muda untuk ikut menjaga kelestarian alam.
Pohon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan daya resap air, mengurangi risiko erosi, serta membantu menjaga kualitas udara.
Dalam konteks mitigasi bencana, penghijauan juga menjadi salah satu langkah yang dapat membantu mengurangi dampak kerusakan lingkungan.
Karena itu, LPBI NU Ponorogo menilai gerakan menanam pohon perlu menjadi budaya yang terus dikembangkan di lingkungan pesantren.
Melalui kegiatan tersebut, santri tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi nyata pelestarian alam.
Dukung Tema Hari Santri Nasional
Program SANGGUB dan gerakan penghijauan yang dilaksanakan LPBI NU Ponorogo dinilai sejalan dengan semangat tema Hari Santri Nasional tahun 2026.
Tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" mengandung makna bahwa santri harus tampil sebagai bagian dari solusi atas berbagai tantangan bangsa.
Santri diharapkan menjadi generasi yang kuat secara spiritual, memiliki wawasan luas, berkarakter, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Dalam konteks tersebut, penguatan kapasitas kebencanaan dan kepedulian lingkungan dipandang sebagai bagian dari persiapan menghadapi tantangan masa depan.
Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam potensi bencana membutuhkan sumber daya manusia yang memahami pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi risiko.
Melalui Program SANGGUB, pesantren diharapkan dapat menjadi salah satu pusat lahirnya generasi muda yang memiliki kemampuan tersebut.
Kolaborasi Lintas Lembaga
Pelaksanaan Program SANGGUB melibatkan sejumlah lembaga dan badan otonom Nahdlatul Ulama.
Dalam kegiatan ini LPBI NU Ponorogo bekerja sama dengan LAZISNU, LP Ma'arif NU, dan RMI NU.
Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi dalam memperkuat pendidikan kebencanaan di lingkungan pesantren.
Masing-masing lembaga memiliki peran yang saling melengkapi untuk memastikan program dapat berjalan secara optimal.
LPBI NU bertanggung jawab pada pengembangan materi kebencanaan dan mitigasi risiko.
LP Ma'arif NU berperan dalam aspek pendidikan dan penguatan kurikulum.
RMI NU mendukung pengembangan jaringan pesantren, sedangkan LAZISNU berkontribusi melalui aktivitas sosial, pemberdayaan serta kemanusiaan.
Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketangguhan masyarakat membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Harapan Jangka Panjang
Melalui Program SANGGUB, LPBI NU Ponorogo berharap lahir generasi santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, kemampuan menghadapi bencana, serta jiwa kemanusiaan yang kuat.
Program ini juga diharapkan dapat menjadi model pengembangan ketangguhan berbasis pesantren yang bisa diterapkan di berbagai wilayah lainnya.
Dengan memadukan pendidikan, aksi lingkungan, dan penguatan karakter, pesantren berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam membangun masyarakat yang lebih tangguh.

Posting Komentar