PMI Bekali PMR Wira Kauman Hadapi Potensi Bencana Sejak Dini
LINTAS86.com, PONOROGO – Palang Merah Remaja (PMR) Wira SMA Negeri 1 Kauman Ponorogo menggelar Ujian Pengambilan Slayer (UPS) Tahun 2026/2027 pada Sabtu (7/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut diikuti anggota PMR Wira sebagai bagian dari program pembinaan dan evaluasi kompetensi kepalangmerahan.
Salah satu materi yang menjadi fokus dalam UPS tahun ini adalah kesiapsiagaan bencana yang disampaikan oleh narasumber dari Palang Merah Indonesia (PMI), M. Nur Amin Zabidi, melalui presentasi bertajuk "Ayo Siaga Bencana".
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam penguasaan tujuh materi pokok PMR yang harus dipahami oleh setiap anggota PMR Wira. Melalui pembekalan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pemahaman praktis mengenai langkah-langkah menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan sekitar.
Pembina PMR SMA Negeri 1 Kauman, Ririn Rahmawati, M.Psi, menyampaikan bahwa UPS merupakan agenda rutin yang bertujuan mengukur kemampuan anggota setelah menjalani proses pembelajaran dan pelatihan dalam organisasi PMR.
Menurutnya, UPS bukan sekadar kegiatan penilaian akademik maupun organisasi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter bagi peserta.
"Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengevaluasi sejauh mana anggota PMR menguasai tujuh bidang materi PMR. Namun yang lebih penting dari itu, saya berharap mereka dapat menjadi pemimpin, minimal di lingkungan mereka sendiri, mampu mandiri, memahami arti tolong-menolong, serta mampu mempraktikkan ilmu yang telah mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari," ujar Ririn Rahmawati.
Ia menjelaskan bahwa penguasaan materi PMR harus dibarengi dengan kemampuan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anggota PMR tidak hanya mampu menjawab materi ujian, tetapi juga mampu menjadi pelopor kepedulian sosial di sekolah maupun masyarakat.
Materi Kebencanaan Jadi Bekal Penting
Dalam pemaparannya, M. Nur Amin Zabidi menjelaskan berbagai konsep dasar mengenai kebencanaan, termasuk pengertian bencana, bahaya (hazard), dan kerentanan (vulnerability).
Peserta mendapatkan pemahaman bahwa sebuah bencana terjadi ketika potensi bahaya bertemu dengan kondisi masyarakat yang rentan sehingga menimbulkan dampak yang mengganggu kehidupan dan memerlukan penanganan lebih lanjut.
Selain itu, peserta juga mempelajari klasifikasi bencana berdasarkan penyebab maupun waktu terjadinya. Bencana dapat terjadi secara tiba-tiba seperti gempa bumi dan tsunami, maupun berlangsung perlahan seperti kekeringan dan krisis pangan.
Materi juga membahas siklus penanggulangan bencana yang terdiri atas tiga tahap utama yaitu pra-bencana, saat bencana, dan pascabencana.
Pada fase pra-bencana, masyarakat perlu melakukan mitigasi serta kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko. Saat bencana terjadi diperlukan tindakan tanggap darurat yang cepat dan tepat. Sedangkan pada fase pascabencana dilakukan rehabilitasi serta rekonstruksi guna memulihkan kehidupan masyarakat terdampak.
Diajarkan Mitigasi Berbagai Ancaman
Dalam sesi pembelajaran tersebut, peserta memperoleh panduan kesiapsiagaan untuk menghadapi berbagai jenis ancaman bencana.
Untuk menghadapi gempa bumi misalnya, peserta diajak memahami pentingnya mengenali kondisi lingkungan sekitar, melindungi kepala saat terjadi guncangan, menjauhi benda yang berpotensi roboh, serta menghindari kepanikan.
Pada ancaman banjir, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan saluran air, mengurangi pembuangan sampah sembarangan, dan meningkatkan daya resap lingkungan.
Sementara untuk menghadapi kebakaran, peserta diajarkan cara menyelamatkan diri dengan tetap tenang, bergerak menjauhi sumber api, menghindari asap pekat, serta memahami jalur evakuasi yang tersedia.
Materi lain juga membahas mitigasi tanah longsor, tsunami, dan kekeringan yang disesuaikan dengan kondisi geografis wilayah Indonesia.
Pentingnya Tas Siaga Bencana
Salah satu materi praktik yang mendapat perhatian peserta adalah pengenalan Tas Siaga Bencana (TSB).
Tas tersebut berfungsi sebagai perlengkapan darurat yang dapat digunakan saat proses evakuasi ketika terjadi bencana. Isinya meliputi obat-obatan ringan, perlengkapan pertolongan pertama, air minum, makanan ringan, senter, peluit, pakaian ganti, perlengkapan mandi, alas kaki, hingga dokumen penting.
Menurut narasumber, keberadaan TSB dapat membantu masyarakat bertahan pada masa-masa awal setelah bencana terjadi sebelum bantuan datang secara menyeluruh.
Konsep sederhana ini dinilai penting untuk ditanamkan kepada peserta sejak usia sekolah agar mereka memiliki kebiasaan merencanakan kesiapan menghadapi kondisi darurat.
PMR Wira Bukan Tim SAR Garis Depan
Materi yang diberikan juga menegaskan posisi PMR Wira dalam sistem penanggulangan bencana.
Anggota PMR Wira tidak bertugas sebagai tim SAR yang memasuki wilayah berbahaya atau reruntuhan bangunan. Sebaliknya, mereka memiliki fungsi sebagai edukator, pelopor keselamatan, dan penggerak aksi kemanusiaan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pada fase pra-bencana, PMR dapat melakukan kampanye kebencanaan, pemetaan risiko sekolah, serta mengajak masyarakat menjaga lingkungan.
Saat terjadi bencana, anggota PMR dapat menjadi teladan dalam proses evakuasi yang aman dan membantu kelompok rentan apabila kondisi memungkinkan.
Sedangkan pada masa pemulihan, PMR dapat berpartisipasi dalam dukungan psikososial, penggalangan bantuan kemanusiaan, serta mendukung penerapan perilaku hidup bersih dan sehat di lokasi terdampak.
Peserta Mengaku Mendapat Wawasan Baru
Materi yang diberikan mendapat respons positif dari peserta. Salah satunya disampaikan oleh Zaskia, anggota PMR Wira kelas X.
Menurutnya, materi tersebut memberikan pemahaman baru mengenai peran PMR dalam menghadapi bencana.
"Materi 'Ayo Siaga Bencana' ini benar-benar membuka wawasan saya sebagai anggota PMR Wira di SMAN 1 Kauman. Ternyata peran kita saat bencana bukan sebagai tim SAR yang terjun ke medan berbahaya, tetapi sebagai agen edukasi, pelopor keselamatan teman sebaya, dan pilar pemulihan di sekolah maupun lingkungan sekitar. Dari materi ini saya jadi lebih paham pentingnya Tas Siaga Bencana dan langkah mitigasi yang tepat untuk menghadapi berbagai ancaman sejak dini," ungkap Zaskia.
Melalui kegiatan UPS Tahun 2026/2027 ini, PMR Wira SMA Negeri 1 Kauman berharap seluruh anggotanya semakin memahami nilai-nilai kepalangmerahan serta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya sekolah dalam mendorong lahirnya generasi muda yang tangguh, peduli, dan siap berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan masing-masing.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar