Atap SDN 4 Pandan Wangi Runtuh, Siswa Selamat Berkat Tindakan Cepat!
00:00
00:00
lintas86.com, Lombok Timur – Kabupaten Lombok Timur kembali menghadapi ujian infrastruktur pendidikan setelah insiden runtuhnya rangka atap di SDN 4 Pandan Wangi, Kecamatan Jerowaru. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu pagi, 7 Februari 2026 ini, menjadi pengingat akan pentingnya perawatan dan pengawasan terhadap bangunan sekolah demi keselamatan siswa.
Insiden ini bermula ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. M. Anwar, S.Pd, Kepala Sekolah SDN 4 Pandan Wangi, menceritakan bagaimana momen tersebut berubah menjadi situasi darurat. Suara "krek" yang keras dari arah atap segera diidentifikasi oleh wali kelas sebagai tanda bahaya.
Pada akhirnya, insiden ini bukan hanya menjadi peringatan keras akan kebutuhan evaluasi struktur bangunan sekolah secara menyeluruh, tetapi juga menjadi refleksi akan pentingnya solidaritas dan kerja sama komunitas dalam menghadapi tantangan bersama.
Insiden ini bermula ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. M. Anwar, S.Pd, Kepala Sekolah SDN 4 Pandan Wangi, menceritakan bagaimana momen tersebut berubah menjadi situasi darurat. Suara "krek" yang keras dari arah atap segera diidentifikasi oleh wali kelas sebagai tanda bahaya.
"Wali kelas mendengar suara 'krek' yang cukup keras dari atas. Laporan itu langsung diteruskan ke saya, dan saat itu juga saya instruksikan seluruh siswa segera mengosongkan ruangan," ungkap M. Anwar.
Keputusan cepat ini berhasil menyelamatkan nyawa semua siswa dan guru, karena hanya beberapa menit setelah ruangan dikosongkan, seluruh rangka atap ambruk. Kejadian ini membuat tiga ruang kelas mengalami kerusakan berat dan tidak bisa digunakan untuk proses pembelajaran.
Menerima laporan insiden melalui pesan singkat, Kanit Dikbud Kecamatan Jerowaru, Lalu Sri Gede Kadindi, S.Pd, bergerak cepat dengan melakukan peninjauan lapangan. Dedikasinya dalam menangani situasi emergensi ini patut diacungi jempol.
Menerima laporan insiden melalui pesan singkat, Kanit Dikbud Kecamatan Jerowaru, Lalu Sri Gede Kadindi, S.Pd, bergerak cepat dengan melakukan peninjauan lapangan. Dedikasinya dalam menangani situasi emergensi ini patut diacungi jempol.
"Begitu dapat info di WhatsApp, saya langsung kontak pengawas dan meluncur ke lokasi. Syukurlah, meski atap rata dengan tanah, guru dan siswa semua dalam kondisi selamat," jelas Lalu Sri Gede Kadindi, yang baru enam bulan menjabat sebagai Kanit Dikbud.
Langkah ini diikuti dengan koordinasi intensif bersama jajaran pimpinan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur untuk merumuskan tindakan lanjut.
Dengan segera, Kanit Dikbud berkomunikasi dengan Kabid SD Hasan, S.Pd, dan Kepala Dinas Dikbud Lotim M. Nurul Wathon, M.Pd, untuk mengatur langkah peninjauan lanjutan. Penjadwalan kunjungan pada Senin, 9 Februari 2026, oleh Kadis dan Kabid SD ditujukan untuk verifikasi teknis dan perencanaan solusi jangka panjang.
Sebagai bagian dari upaya adaptif, Dikbud juga tengah berupaya menghubungi instansi terkait seperti BPBD untuk menyediakan tenda darurat. Hal ini agar kegiatan belajar mengajar dapat terus berlangsung meski di tengah keterbatasan fasilitas.
Dampak insiden ini membuat puluhan siswa terpaksa belajar di ruang terbuka. Dalam jangka pendek, solusi melalui musyawarah antara pihak sekolah dengan masyarakat sekitar menjadi fokus utama. Kanit Dikbud telah mengarahkan kepala sekolah untuk segera berkomunikasi dengan komite, tokoh agama, dan tokoh masyarakat guna mencari cara belajar sementara secara swadaya.
Dengan segera, Kanit Dikbud berkomunikasi dengan Kabid SD Hasan, S.Pd, dan Kepala Dinas Dikbud Lotim M. Nurul Wathon, M.Pd, untuk mengatur langkah peninjauan lanjutan. Penjadwalan kunjungan pada Senin, 9 Februari 2026, oleh Kadis dan Kabid SD ditujukan untuk verifikasi teknis dan perencanaan solusi jangka panjang.
Sebagai bagian dari upaya adaptif, Dikbud juga tengah berupaya menghubungi instansi terkait seperti BPBD untuk menyediakan tenda darurat. Hal ini agar kegiatan belajar mengajar dapat terus berlangsung meski di tengah keterbatasan fasilitas.
Dampak insiden ini membuat puluhan siswa terpaksa belajar di ruang terbuka. Dalam jangka pendek, solusi melalui musyawarah antara pihak sekolah dengan masyarakat sekitar menjadi fokus utama. Kanit Dikbud telah mengarahkan kepala sekolah untuk segera berkomunikasi dengan komite, tokoh agama, dan tokoh masyarakat guna mencari cara belajar sementara secara swadaya.
"Saya sudah minta Kepala Sekolah segera bermusyawarah dengan Komite, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi belajar sementara secara swadaya, sembari menunggu bantuan renovasi permanen dari pemerintah," tegas Lalu Sri Gede Kadindi.
Pada akhirnya, insiden ini bukan hanya menjadi peringatan keras akan kebutuhan evaluasi struktur bangunan sekolah secara menyeluruh, tetapi juga menjadi refleksi akan pentingnya solidaritas dan kerja sama komunitas dalam menghadapi tantangan bersama.
Area yang terdampak kini telah diberi garis pengaman, memastikan keselamatan tetap terjaga sembari penyelesaian masalah dirumuskan secara bertahap.
Penulis: Ibnul Fallah
Editor: Redaksi

Posting Komentar