PMI Salurkan Bantuan 50 Ribu Buku Tulis dan 25 Ribu Pena ke NTT
00:00
00:00
lintas86.com, Jakarta - Palang Merah Indonesia (PMI) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung akses pendidikan bagi anak-anak di Indonesia dengan menyalurkan bantuan pendidikan berupa 50.000 buku tulis dan 25.000 pena untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Inisiatif ini merupakan respons PMI atas kebutuhan mendesak siswa-siswa di wilayah tersebut, menyusul peristiwa tragis kematian seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar di Desa Nenowea, Kecamatan Jarebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Bantuan ini, yang seluruhnya dibeli langsung di Kupang, bertujuan untuk mempercepat proses distribusi dan segera memenuhi kebutuhan mendasar para murid. Saat ini, bantuan telah tiba di Markas PMI Provinsi NTT dan direncanakan akan didistribusikan ke sejumlah sekolah yang memerlukan di berbagai wilayah.
Jusuf Kalla, Ketua Umum PMI, menegaskan bahwa setiap anak berhak atas akses pendidikan yang layak, termasuk ketersediaan sarana belajar dasar seperti buku tulis dan alat tulis.
"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hal sederhana seperti buku dan pulpen sangat berarti bagi masa depan anak-anak. Kami berupaya memastikan kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, sekaligus mendorong kepedulian bersama agar tidak ada lagi anak yang merasa tertinggal atau tertekan karena keterbatasan," ujar Jusuf Kalla.
Lebih lanjut, Kalla menyatakan bahwa pemberian bantuan ini bukan hanya sekadar respons kemanusiaan, tetapi juga bagian dari komitmen PMI dalam mendukung keberlanjutan pendidikan dan kesehatan mental anak-anak.
PMI Provinsi NTT bersama PMI kabupaten/kota akan bekerja sama dengan pihak sekolah dan pemerintah daerah setempat guna memastikan pendistribusian bantuan berjalan dengan tepat sasaran dan mencapai siswa yang paling membutuhkan.
Tragedi yang menimpa siswa SD di Desa Nenowea menjadi latar belakang bagi inisiatif ini. Siswa tersebut ditemukan meninggal dunia pada Kamis, 29 Januari. Lokasi kejadian tidak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Dalam penyelidikan, petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diyakini ditujukan kepada ibunda korban. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa sebelum kejadian, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena, namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi.
Dalam konteks ini, langkah PMI menyediakan sarana belajar dasar diharapkan tidak hanya meringankan beban orang tua tetapi juga mencegah peristiwa serupa terjadi di masa mendatang. Inisiatif ini menekankan pentingnya sinergi antara lembaga kemanusiaan, pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung dan menjaga kesejahteraan mental siswa.
PMI berharap agar bantuan ini dapat menjadi penggerak bagi upaya-upaya lebih lanjut dalam memastikan setiap anak di Indonesia mendapatkan hak pendidikannya, tanpa terkecuali. Melalui kerja sama yang solid, diharapkan tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan belajar akibat ketiadaan sarana sederhana seperti buku tulis dan pena.
Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi

Posting Komentar