PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas

LINTAS86.com, NGADA - Langkah tersebut dilakukan menyusul masih banyaknya warga yang bertahan di lokasi pengungsian akibat kerusakan rumah, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, terganggunya layanan kesehatan, serta rusaknya sejumlah fasilitas pendidikan pascagempa.

Ketua PMI Kabupaten Ngada, Romilus Juji, mengatakan sejak awal masa tanggap darurat PMI langsung terlibat dalam sistem penanganan bencana bersama Posko Penanggulangan Bencana Kabupaten Ngada, BPBD, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan berbagai unsur terkait lainnya.

“PMI Ngada sejak awal kejadian bencana telah berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Romilus.

Asesmen Temukan Kebutuhan Mendesak di 12 Kecamatan

Sebagai langkah awal, PMI menerjunkan relawan untuk melakukan asesmen dan pendataan kondisi masyarakat di wilayah terdampak. Hasil asesmen menunjukkan kebutuhan masyarakat tidak hanya terbatas pada bantuan logistik darurat, tetapi juga mencakup hunian sementara, layanan kesehatan, perlengkapan keluarga, serta ruang belajar yang aman bagi anak-anak.

Menurut Romilus, sejumlah warga masih memilih tinggal di lokasi pengungsian karena rumah mereka mengalami kerusakan ringan hingga berat atau belum dinyatakan aman untuk ditempati kembali.

“Banyak warga yang belum bisa kembali ke rumah karena masih khawatir dengan kondisi bangunan dan kemungkinan gempa susulan,” katanya.

Selain persoalan hunian, aktivitas pendidikan juga terganggu akibat kerusakan sekolah dan sarana belajar. Di sisi lain, kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penyandang disabilitas membutuhkan layanan kesehatan yang berkelanjutan selama masa pemulihan.

Bantuan Darurat dan Selter Sementara

Menindaklanjuti hasil pendataan lapangan, PMI Ngada menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan berupa tenda, terpal, tikar, kelambu, family kit, dan hygiene kit kepada masyarakat terdampak.

Bantuan tersebut diberikan berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di masing-masing wilayah sehingga distribusinya lebih tepat sasaran dan menjangkau keluarga yang paling membutuhkan.

PMI juga mendukung pembangunan selter dan hunian sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat maupun sedang. Keberadaan selter dinilai menjadi kebutuhan mendesak karena masih banyak warga yang belum memiliki tempat tinggal yang aman.

“Selter menjadi kebutuhan mendesak bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan dan belum dapat ditempati kembali,” ujar Romilus.

Menurut PMI, keberadaan hunian sementara tidak hanya memberikan perlindungan dari cuaca dan risiko lingkungan, tetapi juga membantu masyarakat menjalani proses pemulihan dengan lebih baik sambil menunggu rehabilitasi rumah permanen.

Layanan Kesehatan Diperluas

Selain bantuan logistik, PMI Ngada memperkuat layanan kesehatan di sejumlah titik terdampak gempa melalui dukungan relawan dan tenaga kesehatan.

Pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, pengobatan dasar, pemantauan kelompok rentan, serta edukasi kesehatan bagi masyarakat yang berada di pengungsian maupun desa-desa terdampak.

Kelompok prioritas layanan meliputi:

  • Lansia.
  • Ibu hamil.
  • Anak-anak.
  • Penyandang disabilitas.
  • Warga dengan penyakit kronis.

Di samping itu, Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Ngada terus menjaga ketersediaan stok darah guna memastikan pelayanan medis di rumah sakit dan fasilitas kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat dan pemulihan.

Kelas Darurat untuk Menjaga Keberlangsungan Pendidikan

PMI Ngada juga memberikan perhatian khusus terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak yang terdampak gempa.

Melalui dukungan pembangunan kelas darurat, PMI membantu memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan meskipun sejumlah fasilitas pendidikan mengalami kerusakan akibat bencana.

Kelas darurat menjadi solusi sementara agar siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar sambil menunggu proses perbaikan sekolah yang terdampak.

Menurut PMI, keberadaan ruang belajar sementara tidak hanya menjaga hak anak untuk memperoleh pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial pascabencana.

Dengan kembali menjalani aktivitas belajar, anak-anak diharapkan lebih cepat beradaptasi dengan situasi baru dan mengurangi rasa takut maupun trauma akibat gempa yang mereka alami.

Dapat Apresiasi dari Masyarakat

Berbagai layanan yang diberikan PMI mendapat respons positif dari masyarakat maupun pemerintah setempat.

Warga menilai bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pendampingan relawan sangat membantu mereka menghadapi masa-masa sulit pascagempa. Kehadiran PMI juga dinilai memberikan rasa aman dan dukungan moral bagi masyarakat yang masih bertahan di pengungsian.

Sementara itu, pemerintah desa dan aparat kecamatan mengapresiasi langkah PMI yang bergerak cepat melakukan asesmen, distribusi bantuan, dan koordinasi dengan berbagai pihak dalam penanganan dampak bencana.

Fokus Dampingi Masyarakat Hingga Pulih

Memasuki fase pemulihan, PMI Ngada menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat melalui layanan kesehatan, dukungan psikososial, hunian sementara, serta program penguatan ketahanan masyarakat terhadap bencana.

“Kami akan terus hadir bersama masyarakat hingga proses pemulihan berjalan dengan baik dan masyarakat dapat kembali menjalani aktivitasnya secara normal,” tegas Romilus.

Penulis: Zabidi
Editor: Redaksi
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas
  • PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas
  • PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas
  • PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas
  • PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas
  • PMI Ngada Perkuat Pemulihan Pascagempa, Selter dan Kelas Darurat Jadi Prioritas

Posting Komentar